INFO PRAKIRAAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN(PDPI) dari KKP [13-15 September 2013 ] : DPI Jawa Bali dan Nusa Tenggara : DPI (122’34’’21.9’’’BT, 9’12’’3.1’’’LS) Potensi (111’18’’54.2’’’BT, 8’46’’7.7’’’LS) (112’4’’59.4’’’BT, 8’27’’50.7’’’LS) (115’28’’3.7’’’, 9’7’’43.9’’’LS) (115’26’’37.2’’’BT, 9’26’’27.2’’’LS) (107’17’’23.2’’’BT, 8’0’’2.5’’’LS) DPI Kalimantan : -- DPI Maluku Papua : -- DPI Sumatera : Potensi (104’55’’48.3’’’BT, 6’27’’52.0’’’LS) DPI Sulawesi : Potensi (118’43’’55.8’’’BT, 1’45’’35.1’’’LS)

Saturday, October 29, 2011

POMPA HISAP SISTIM PENGELASAN

POMPA HISAP SISTIM PENGELASAN
  1. PENDAHULUAN
    Di daerah pedesaan sebagian besar cara pengambilan air terdiri dari sumur masih menggunakan timba. Hal ini kurang menguntungkan bila dihitung dari segi waktu dan tenaga yang dipakai untuk menimba air.
    Kegunaan pompa air perlu dikenalkan kepada masyarakat pedesaan. Mereka perlu didorong untuk mencoba cara yang lebih menguntungkan dalam pengambilan air. Waktu dan tenaga yang biasanya digunakan untuk menimba air dapat dimanfaatkan untuk mengerjakan pekerjaan lain.
    Dalam bahasan berikut akan dijelaskan cara pembuatan pompa air yang dapat dikerjakan oleh masyarakat pedesaan. Bahan dan alat-alatnya mudah diperoleh di desa dan biayanya pun murah. Pemakaian serta pemeliharaannya juga mudah.
  2. URAIAN SINGKAT
    Pompa hisap ini merupakan hasil teknologi tepat guna, namun sudah diganti dengan sistim yang lebih baru sehingga pembuataannya murah dan mudah
    dirawat.
  3. BAHAN
    1. Besi (yang sudah digalvanisir)
    2. Baut
    3. Mur
    4. Batang (diameter 12 mm)
    5. Sambungan diameter ganda
    6. Pipa cabang T
    7. Pipa air
    8. ayu (jenis yang keras dan tahan retak)
    9. Lain-lain:
      1. kulit tahan air atau karet
      2. meni timah/meni besi
      3. bahan pengawet kayu (karboleum)
      4. semen
  4. PERALATAN
    1. Bor kayu
    2. Kunci tangkai
    3. Gergaji besi dan kayu
    4. 2 (dua) buah tang pipa
    5. Pita ukur
    6. Kikir kayu/sugu kayu
    7. Alat pengelas
    8. Alat tap dan pisau ukir untuk membuat ukir sekrup.
      Ukuran-Ukuran yang dipakai
      Tinggi Penaikan
      Diameter maksimum silinder
      Diameter maksimum pompa
      Panjang Pegangan
      < 5 m
      10 cm
      10 cm
      20 + 80 cm
      8 m
      8 cm
      7 cm
      20 + 90 cm
      12 m
      7 cm
      5 cm
      20 + 100 cm
      15 m
      6 cm
      4 cm
      20 + 110 cm
  5. PEMBUATAN
    1. Dibuat silinder, katup kaki dan pengisap
      1. Silinder pompa, terdiri dari pipa galvanisir panjangnya 60 cm yang bagian atas dilengkapi dengan ulir sebelah luar. Bagian dalam dari silinder harus selicin mungkin untuk menghindari kerusakan pada torak penghisap.
      2. Torak penghisap, merupakan suku cadang dari pompa yang menentukan tinggi tekan maksimal dan kapasitas pompa. Untuk tinggi penaikan yang lebih dari 12 meter dapat dipasang 2 buah penghisap (Gambar 2).
        Penghisap dibuat dari lempengan karet yang diberi 6 ayau 8 buah lubang (Gambar 3) kemudian dengan katup kulit dipasang pada batang torak.

        Gambar 1. Karet penghisap penampang berlubang-lubang
      3. Bentuk dari penghisap kayu (Gambar 2a, 2b).

        Gambar 2a. Potongan penghisap

        Gambar 2b. Tempat menutupnya (merayapnya) Penghisap dengan dinding silinder
      4. Katup kaki, untuk mencegah mengalirnya kembali air yang telah terdapat dalam silinder menuju lubang masuk. Katup ini dipasang pada bagian bawah silinder pompa (Gambar 3).

        Gambar 3. Katup kaki
    2. Pemasangan rumah pompa
      Kontruksi rumah pompa dengan sambungan las seperti pada Gambar 4,5, dan 6.

      Gambar 4. Rumah pompa

      Gambar 5.

      Gambar 6. Pemasangan rumah pompa dengan peyampungan las
    3. Pegangan pompa
      1. Terbuat dari kayu keras ukuran minimal 6 x 6 cm
      2. Pegangan pompa (Gambar 7) . Salah satu ujungnya harus diserut menjadi bentuk yang dapat dipegang, sedang pada ujung lainnya dihubungkan batang torak dengan jarak antara lubang engsel dan lubang pemasangan batang torak kira-kira 20 cm.

        Gambar 7. Pegangan pompa
      3. Gambar 8 merupakan batang pompa yang dihubungkan pada pegangan dengan bantuan suatu balok engsel pada bagian atas balok diberi 2 mur. Batang pompa harus dijepit kokoh dalam balok pengikat.

        Gambar 8. Pemasangan batang torak pada pegangan
    4. Pemasangan akhir pompa
      1. Rumah pompa dan silinder pompa dan semua suku cadang dicat dengan meni timah atau besi, sedang bagian-bagian kayu dilindungi dengan bahan pengawet kayu.
      2. Torak penghisap dan klep kaki dipasang dengan tetap dalam silinder, sedang silinder dipasang pada tabung pompa. Kemudian semua alur diberi lapis untuk mencegah karat.
      3. Cara untuk memperpanjang batang torak (lihat Gambar 9).
      4. Perakitan dapat dilihat pada Gambar 10, 11, 12, dan 13.

        Gambar 9. Perpanjangan batang torak dengan Bantuan sambungan berulir atau dilas

        Gambar 10. Pemasangan pompa

        Gambar 11. Penutupan sumur guna mencegah Pencemaran oleh air bocor

        Gambar 12. Suku cadang utama sebuah pompa hisap

        Gambar 13
  6. PEMELIHARAAN
    1. Pemeriksaan dengan cara mengencangkan kembali baut dan mur
    2. Mengecat kembali secara teratur suku cadang yang berkarat
    3. Menggantikan suku cadang yang aus atau rusak
    4. Memperbaiki semen yang retak-retak.
  7. KEUNTUNGAN
    1. Dengan memakai pengelasan pada rumah pompa, kekuatannya lebih baik dan tahan lama.
    2. Penggunan pompa penghisap ini dapat mencapai tinggi penaikan air sampai 15-20 m
  8. KERUGIAN
    Pompa hisap ini tidak berlaku bagi sumur-sumur bor (tubewells) yang berdiameter beberapa desimeter. Apabila diameter silinder terlalu besar maka pemompa menjadi terlalu berat, sedangkan apabila diameter terlalu kecil maka air yang dihasilkan terlampau sedikit.
  9. DAFTAR PUSTAKA
    Pompa Hisap. Publikasi Tool (Belanda). Terjemahan : Pusat Dokumentasi PTP-ITB Bandung.
  10. INFORMASI LEBIH LANJUT
    1. Pusat Penelitian dan Pengembangan Fisika Terapan – LIPI; Jl. Cisitu Sangkuriang No. 1 – Bandung 40134 - INDONESIA; Tel.+62 22 250 3052, 250 4826, 250 4832, 250 4833; Fax. +62 22 250 3050
    2. Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan PDII-LIPI; Sasana Widya Sarwono, Jl. Jend. Gatot Subroto 10 Jakarta 12710, INDONESIA.
Sumber : Buku Panduan Air dan Sanitasi, Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan PDII-LIPI bekerjasama dengan Swiss Development Cooperation, Jakarta, 1991.
Publish: Menristek

POMPA SISTIM BALOK PENJEPIT

POMPA SISTIM BALOK PENJEPIT
  1. PENDAHULUAN
    Di daerah pedesaan sebagian besar cara pengambilan air terdiri dari sumur masih menggunakan timba. Hal ini kurang menguntungkan bila dihitung dari segi waktu dan tenaga yang dipakai untuk menimba air.
    Kegunaan pompa air perlu dikenalkan kepada masyarakat pedesaan. Mereka perlu didorong untuk mencoba cara yang lebih menguntungkan dalam pengambilan air. Waktu dan tenaga yang biasanya digunakan untuk menimba air dapat dimanfaatkan untuk mengerjakan pekerjaan lain.
    Dalam bahasan berikut akan dijelaskan cara pembuatan pompa air yang dapat dikerjakan oleh masyarakat pedesaan. Bahan dan alat-alatnya mudah diperoleh di desa dan biayanya pun murah. Pemakaian serta pemeliharaannya juga mudah.
  2. URAIAN SINGKAT
    Pompa hisap sistim balok penjepit dapat digunakan pada sumur yang mempunyai kedalaman 15-20 m. Bahan dan alat mudah didapat di daerah pedesaan. Pompa hisap tekan ini telah disederhanakan untuk memenuhi kebutuhan di daerah pedesaan.
  3. BAHAN
    1. Besi (yang sudah digalvanisir)
    2. Baut
    3. Mur
    4. Batang (diameter 12 mm)
    5. Sambungan diameter ganda
    6. Pipa cabang T
    7. Pipa air
    8. Kayu (jenis yang keras)
    9. Lain-lain :
      1. kulit tahan air atau karet
      2. meni timah/meni besi
      3. bahan pengawet kayu (karboleum)
      4. semen
  4. PERALATAN
    1. Bor kayu
    2. Kunci tangkai
    3. Gergaji besi dan kayu
    4. 2 (dua) buah tang pipa
    5. Pita ukur
    6. Kikir kayu/sugu kayu
    7. Alat tap dan pisau ulir untuk membuat ulir sekerup
      Tabel 1. Ukuran-Ukuran yang dipakai
      Tinggi Penaikan
      Diameter maksimum silinder
      Diameter maksimum pompa
      Panjang Pegangan
      < 5 m
      10 cm
      10 cm
      20 + 80 cm
      8 m
      8 cm
      7 cm
      20 + 90 cm
      12 m
      7 cm
      5 cm
      20 + 100 cm
      15 m
      6 cm
      4 cm
      20 + 110 cm
  5. PEMBUATAN
    1. Dibuat silinder, katup kaki dan pengisap
      1. Silinder pompa, terdiri dari pipa galvanisir panjangnya +/- 60 cm yang bagian atasnya dilengkapi dengan ulir sebelah luar. Bagian dalam dari silinder harus selicin mungkin untuk menghindari kerusakan pada torak penghisap. Ukuran serta cara pemasangan seperti Gambar 1.

        Gambar 1. Silinder pon
      2. Torak penghisap, merupakan suku cadang dari pompa yang menentukan tinggi tekan maksimal dan kapasitas pompa. Untuk tinggi penaikan yang lebih dari 12 meter dapat dipasang 2 buah penghisap (Gambar 2).
        Penghisap dibuat dari lempengan karet yang diberi 6 ayau 8 buah lubang (Gambar 3) kemudian dengan katup kulit dipasang pada batang torak.

        Gambar 2. Torak pengisap ganda

        Gambar 3. Karet penghisap penampang berllubang-lubang
      3. Katup kaki, untuk mencegah mengalirnya kembali air yang telah terdapat dalam silinder menuju lubang masuk. Katup ini dipasang pada bagian bawah silinder pompa (Gambar4).

        Gambar 4. Penutup kaki
    2. Pemasangan rumah pompa
      1. Kontruksi rumah pompa dengan balok penjepit (Gambar 5), caranya dengan menjepit tabung pompa dengan 2 buah balok penjepit yang ditahan pada penahan-penahan pegangan dengan 2 buah baut panjang (Gambar 6).
      2. Potongan pompa seperti ditunjukkan pada Gambar 7.

        Gambar 5. Kontruksi rumah pompa tanpa sambungan las

        Gambar 6. Pemasangan rumah pompa

        Gambar 7. Potongan rumah pompa
    3. Pegangan pompa
      1. Terbuat dari kayu keras ukuran minimal 6 x 6 cm
      2. Pegangan pompa 80-120 cm (Gambar 8). Salah satu ujungnya harus diserut menjadi bentuk yang dapat dipegang, sedang pada ujung lainnya dihubungkan batang torak dengan jarak antara lubang engsel dan lubang pemasangan batang toral kira-kira 20 cm.

        Gambar 8. Pegangan pompa
      3. Gambar 9, merupakan batang pompa yang dihubungkan pada pegangan dengan bantuan suatu balok engsel pada bagian atas balok diberi 2 buah mur. Batang pompa harus dijepit kokoh dalam balok pengikat.

        Gambar 9. Pemasangan batang torak pada pegangan
    4. Pemasangan akhir pompa
      1. Apabila rumah pompa dan silinder pompa telah siap maka semua suku cadang dicat dengan meni timah atau besi, sedang bagian-bagian kayu dilindungi dengan bahan pengawet kayu.
      2. Torak penghisap dan klep kaki dipasang dengan tepat dalam silinder, sedang silinder dipasang pada tabung pompa. Kemudian semua alur diberi lapis ter untuk mencegah karat.
      3. Gambar 10, cara memperpanjang batang torak
      4. Perakitan dapat dilihat pada Gambar 11, 12, 13, dan 14.

        Gambar 10. Perpanjangan batang torak dengan bantuan sambuangan berulir / dilas

        Gambar 11. Pemasangan pompa

        Keterangan :
        1. Penutup celah antara lempengan dasar dan tutp sumur dengan semen
        2. Pembuatan suatu lantai miring agar air bocoran dapat mengalir tanpa mencemari sumur
        Gambar 12. Penutupan sumur guna mencegah pencemaran oleh air bocoran

        Gambar 13. Suku Cadang Utama Sebuah Pompa Hisap

        Gambar 14. Prinsip kerja sebuah pompa hisap
  6. PEMELIHARAAN
    1. Kencangkan baut dan mur yang longgar
    2. Cat secara teratur suku cadang yang berkarat
    3. Ganti suku cadang yang aus dan rusak
    4. Perbaiki semen yang retak-retak
  7. KEUNTUNGAN
    Penggunaan pompa penghisap ini dapat mencapai tinggi penaikan sebesar 15 sampai 20 m
  8. KERUGIAN
    1. Dengan sistem balok penjepit, kekuatan dari pompa berkurang dan tidak tahan lama.
    2. Pengerjaan konstruksi lebih rumit
  9. DAFTAR PUSTAKA
    Pompa Hisap. Publikasi TOOL (Belanda) Terjemahan : Pusat Dokumentasi Informasi PTP-ITP, Bandung.
  10. INFORMASI LEBIH LANJUT
    1. Pusat Penelitian dan Pengembangan Fisika Terapan – LIPI; Jl. Cisitu Sangkuriang No. 1 – Bandung 40134 - INDONESIA; Tel.+62 22 250 3052, 250 4826, 250 4832, 250 4833; Fax. +62 22 250 3050
    2. Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan PDII-LIPI; Sasana Widya Sarwono, Jl. Jend. Gatot Subroto 10 Jakarta 12710, INDONESIA.
Sumber : Buku Panduan Air dan Sanitasi, Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan PDII-LIPI bekerjasama dengan Swiss Development Cooperation, Jakarta, 1991.
Publisher: Menristek

POMPA TALI

POMPA TALI
  1. PENDAHULUAN
    Di daerah pedesaan sebagian besar cara pengambilan air terdiri dari sumur masih menggunakan timba. Hal ini kurang menguntungkan bila dihitung dari segi waktu dan tenaga yang dipakai untuk menimba air.
    Kegunaan pompa air perlu dikenalkan kepada masyarakat pedesaan. Mereka perlu didorong untuk mencoba cara yang lebih menguntungkan dalam pengambilan air. Waktu dan tenaga yang biasanya digunakan untuk menimba air dapat dimanfaatkan untuk mengerjakan pekerjaan lain.
    Dalam bahasan berikut akan dijelaskan cara pembuatan pompa air yang dapat dikerjakan oleh masyarakat pedesaan. Bahan dan alat-alatnya mudah diperoleh di desa dan biayanya pun murah. Pemakaian serta pemeliharaannya juga mudah.
  2. URAIAN SINGKAT
    Pompa tali sangat menguntungkan untuk digunakan di daerah pedesaan. Cara pemakaianya tidak memerlukan tenaga yang besar. Wanita dan anak-anak dapat dengan mudah menggunakan pompa tali untuk memperoleh air. Air yang dapat diambil dengan pompa ini keadalamannya terbatas (.... 25 m).
  3. BAHAN
    1. Ban luar bekas mobil : 1 buah.
    2. Pipa pralon diameter ¾ inci : panjang tergantung dalamnya sumur.
    3. Sambungan pipa (sok) : tergantung dalamnya sumur
    4. Tali plastik diameter 8 0,5 cm : panjang tali 3 kali panjang pipa
    5. Besi beton diameter 8 mm sebanyak 4 batang @ 20 cm, 4 batang @ 40 cm, 4 batang @ 50 cm
    6. Pipa besi diameter ¾ inci sepanjang 50 cm
    7. Papan dan balok kayu
    8. Semen, paku, kawat secukupnya.
  4. PERALATAN
    1. Gergaji besi
    2. Gergaji kayu
    3. Palu
    4. Pisau pahat kayu
    5. Tang
  5. PEMBUATAN
    1. Roda pemutar
      1. Ban luar bekas disayat bagian sampingya sehingga menghasilkan 2 buah lingkaran
      2. Membuat 8 lubang segi empat, sisinya 1 cm. Letaknya kira-kira 2 cm dari lingkaran dalam
      3. Membengkokkan potongan besi beton yang panjangnya 40 cm menjadi bentuk U (bengkokkan ke empatnya)
      4. Ambil keempat besi beton ukuran 20 cm, dan bengkokkan sehingga membentuk huruf V
      5. Bengkokkan besi yang panjang 30 cm dibuat persegi pada kedua ujungnya
      6. Tangkupkan kedua lingkaran ban yang bagian dalamnya berada di sebelah luar. Pasang besi-besi yang berbentuk U dan V seluruhnya. Kemudian ujung-ujung besi U dipasang ke dalam pipa besi. Setelah itu pantek dengan paku supaya kuat, seperti Gambar 1

        Gambar 1. Pemasangan pipa besi U dan V pada ban
      7. Pasang keempat besi yang berbentuk z, satukan untuk batang pemutar, lalu pantek dengan paku hingga kuat. (Gambar 2).

        Gambar 2. Pemasangan pipa besi Z pada ban
      8. Pasang pipa pendek pada batang pemutar sebagi pegangan, kemudian ikat dengan kawat.
      9. Potong 2 buah papan dengan ukuran 15 x 30 cm, tebal 2 cm. Juga 2 buah papan dengan ukuran 6 x 30 x 3 cm. Pasang keempat papn tersebut, kemudian ikat dengan kawat, tetapi as pipa harus tetap dapat berputar denngan mudah. Pipa yang kelihatan harus dibungkus dengan ban dalam bekas supaya as pipa tidak bergeser (Gambar 3 dan 4).

        Gambar 3. Pemasangan papan ban pada batang pemutar

        Gambar 4. Pemasangan ban dalam bekas pada batang pemutar
    2. Dudukan bagian bawah
      1. Membuat keping papan seperti Gambar 5.

        Gambar 5. Bentuk keping papan
      2. Supaya ujung pipa melebar, panaskan diatas api. Tusuk kayu bulat yang runcing pada lubang pipa, agar waktu tali berputar dapat bergerak dengan lancar. Kemudian rakit pipa di antara 2 papan yang diikat dengan tali plastik (Gambar 6)

        Gambar 6. Pemasangan pipa dalam papan
    3. Simpul dan sambungan tali
      1. Untuk membuat simpul gunakan alat bantu berupa belahan bambu. Jarak antar simpul 25-35 cm. Jumlah simpul disesuaikan dengan panjang tali/kedalaman sumur. (Gambar 7 dan 8).

        Gambar 7. Cara membentuk simpul tali

        Gambar 8. Cara membentuk simpul tali
      2. Sambungan tali seperti Gambar 9

        Gambar 9. Cara penyambungan tali
    4. Dudukan pompa
      1. Dibuat dari pasangan bata dan semen (Gambar 10)

        Gambar 10. Bentuk dudukan pompa
    5. Cara pemasangan dan pemakaian :
      1. Ukur panjang pipa sesuai dengan kedalaman sumur. Masukkan tali yang telah bersimpul ke dalam lubang pipa.
      2. Pasang roda pemutar pada dudukannya
      3. Masukkan pipa berserta tali ke dalam sumur.
      4. Masukkan ujung pipa melalui lubang yang tersedia untuk saluran air.
      5. Pasang tali pada roda pemutar, dan sambung kedua ujungnya. Tali dipasang agak longgar agar waktu diputar simpul tidak menyangkut pada ujung pipa.
      6. Coba diputar, yang ada dalam pipa arahnya harus ke atas. Setelah diputar beberapa kali air akan menyembul keluar melalui ujung pipa. (Gambar 11 dan 12).

        Gambar 11. Cara kerja pompa tali

        Gambar 12. Pemakaian pompa tali
  6. KEUNTUNGAN
    1. Memudahkan pengambilan air dari dalam sumur, karena air dapat langsung disalurkan ke tempat-tempat penyimpanan melalui pipa yang disediakan.
    2. Pompa tali ini dapat menaikkan air dari kedalaman sekitar 25 m.
    3. Wanita dan anak-anak dapat memutar pompa tali ini.
  7. KERUGIAN
    Tidak dapat digunakan pada sumur yang mempunyai kedalaman lebih dari 25 m
  8. DAFTAR PUSTAKA
    1. Haryoto. Membuat Pompa Tali. Jakarta : PT. Penebar Swadaya, 1982. 23 hal.
    2. Pompa tali pernah dicoba dan banyak dipakai di daerah Wamena, Irian Jaya
  9. INFORMASI LEBIH LANJUT
    1. Pusat Penelitian dan Pengembangan Fisika Terapan – LIPI; Jl. Cisitu Sangkuriang No. 1 – Bandung 40134 - INDONESIA; Tel.+62 22 250 3052,
      250 4826, 250 4832, 250 4833; Fax. +62 22 250 3050
    2. Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan PDII-LIPI; Sasana Widya Sarwono, Jl. Jend. Gatot Subroto 10 Jakarta 12710, INDONESIA.
Sumber : Buku Panduan Air dan Sanitasi, Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan PDII-LIPI bekerjasama dengan Swiss Development Cooperation, Jakarta, 1991.
Publisher: Menristek

POMPA BAMBU

POMPA BAMBU
  1. PENDAHULUAN
    Di daerah pedesaan sebagian besar cara pengambilan air terdiri dari sumur masih menggunakan timba. Hal ini kurang menguntungkan bila dihitung dari segi waktu dan tenaga yang dipakai untuk menimba air.
    Kegunaan pompa air perlu dikenalkan kepada masyarakat pedesaan. Mereka perlu didorong untuk mencoba cara yang lebih menguntungkan dalam pengambilan air. Waktu dan tenaga yang biasanya digunakan untuk menimba air dapat dimanfaatkan untuk mengerjakan pekerjaan lain.
    Dalam bahasan berikut akan dijelaskan cara pembuatan pompa air yang dapat dikerjakan oleh masyarakat pedesaan. Bahan dan alat-alatnya mudah diperoleh di desa dan biayanya pun murah. Pemakaian serta pemeliharaannya juga mudah.
  2. URAIAN SINGKAT
    Pembuatan pompa bambu ini mudah dan sederhana. Bahan dan alat juga dapat diperoleh dengan mudah. Pompa bambu ini menghisap air dari dalam sumur, dan menekan/mendorong air ke bak penampungan. Pompa bambu terdiri dari : bambu; tabung piston; pengungkit; bambu penghubung dengan
    klep dan dudukan pompa.
  3. BAHAN
    1. 2 (dua) batang bambu yang tua dan kering.
    2. Kayu keras ukuran 6 x 12 cm, panjang 1,5.
    3. Kayu keras ukuran 3 x 2 cm, panjang 2,5 m.
    4. Kayu keras bentuk silinder (diameter sama dengan bambu).
    5. Kayu ukuran panjang 1 m, lebar 4 cm dan tebal 4 cm.
    6. Kulit lunak yang telah dimasak, diameter 20 cm.
    7. Meni.
    8. Cat.
    9. Paku kecil (0,1 inci) ukuran 2 cm, 5 cm dan 15 cm.
    10. Tali ijuk.
    11. Kawat ban bekas mobil diameter 5 cm sebanyak 2 buah.
    12. Seng tipis.
    13. Baut dan mur ukuran 3/8 inci 1 buah, panjang 20 cm dan 1 cm.
    14. Bambu kecil diameter 5 cm, panjang 10 cm 3 buah.
  4. PERALATAN
    1. Gergaji
    2. Pisau raut
    3. Pahat
    4. Sugu
    5. Tali ijuk atau tali plastik
    6. Golok/parang
    7. Kikir kayu atau parut
    8. Catut/gegep
    9. Paku
    10. Palu
  5. PEMBUATAN
    1. Membuat sumur
      1. buat sumur dengan diameter 1 m dan kedalaman 7 m
      2. kedalaman air sumur 2 m
      3. tinggi bibir sumur 1 m
    2. Bentuk dasar pompa bambu (Gambar 1)
      1. bambu I : panjang sama dengan kedalaman sumur
      2. bambu II : untuk tabung piston, yang di dalamnya terdapat piston
      3. bambu III : untuk menyalurkan air ke bak penampungan
        Bambu I, II, dan III dihubungkan dengan bambu kecil yang mempunyai kelep karet. (Gambar 1.)
    3. Komponen pompa bambu
      1. Pompa bambu terdiri dari bambu, piston, pengungkit, bambu penghubung dengan kelep, dan dudukan pompa. Potong bambu 7,6 meter, kemudian buat lubang untuk menempelkan bambu penghubung dengan jarak 20 cm dari atas (Gambar 2).

        Gambar 1. Bentuk Dasar Pompa Bambu

        Gambar 2. Pembuatan Bambu I
      2. Ukuran untuk tabung piston (bambu II) (lihat Gambar 3a; 3b). Potong bambu untuk menyalurkan air ke bak penampungan (bambu III).
        Gambar 3a
        Gambar 3b

        Gambar 3a. Pembuatan Tabung Piston (Bambu II) Dengan Satu Ruas
        Gambar 3b. Pembuatan Tabung Piston (Bambu II) Dengan Dua Ruas
        Keterangan :
        Lubang I = menghubungkan dengan bambu I
        Lubang II = menghubungkan dengan bambu III
        Panjang bambu III (Gambar 4) tergantung pada tingginya bak penampung, sedang panjang dari bambu ke bak tergantung pada jarak sumur ke bak penampung.
        Gambar 4. Pembuatan bambu III
        Keterangan :
        Lubang 1 = menghubungkan dengan bambu II
        Lubang 2 = menghubungkan dengan bak penampungan
    4. Membuat bambu penghubung dan kelepnya:
      1. Bambu kecil diameter 4 cm, panjang 10 cm, harus pas betul dengan lubang-lubang yang ada di bambu I, II, III. (Gambar 5).

        Gambar 5. Cara Pembuatan Bambu Penghubung
      2. Cara membuat kelep seperti Gambar 6.

        Gambar 6. Cara Membuat dan Memasang Klep
    5. Membuat piston
      1. Piston terdiri dari : tangkai piston; kayu piston bagian atas dan bawah; dan kulit piston. Lihat Gambar 7.

        Gambar 7. Piston
      2. Tangkai piston, ukuran tangkai piston : lebar 6 cm; tebal 3 cm dan panjang 42 cm. Cara membuatnya lihat Gambar 8.

        Gambar 8. Tangkai Piston
      3. Kayu biston bagian atas dan bawah merupakan 2 silinder kayu dengan diameter 7,5 cm dan 7 cm, tebal 2 cm. Bagian tengah diberi lubang
        dengan diameter 1,5 cm. Lihat Gambar 9.

        Gambar 9. Kayu Piston
      4. Dibutuhkan 2 kulit piston (atas, bawah dang tengah). Kulit piston bagian atas dan bawah berdiameter 7,5 cm. Kulit piston bagian tengah berdiameter 12,5.
        Cara memasang piston lihat Gambar 10.

        Gambar 10. Cara Pemasangan Piston
        Keterangan :
        1. Kayu piston bagian atas 4. Kulit piston bagian bawah
        2. Kulit piston bagian atas 5. Kayu piston bagian bawah
        3. Kulit piston bagian tengah 6. Paku penguat
    6. Membuat pengukit pompa
      Kayu pengungkit pompa berukuran panjang 1 m (100 cm); lebar 6 cm dan tebal 4 cm.
      Cara buat lihat Gambar 11

      Gambar 11. Pengungkit Pompa.
    7. Membuat dudukan pompa
      Bahan kayu ukuran 6 x 12 cm, panjang 1 m, 35 cm dan 15 cm dudukan pompa terdiri dari kayu mendatar untuk menempel bambu-bambu I, II, III.
      Kayu tegak untuk pengungkit. (Gambar 12, 13)

      Gambar 12. Membuat Dudukan Pompa

      Gambar 13. Merangkai Dudukan Pompa
    8. Merangkai pompa bambu. (Gambar 14)

      Gambar 14. Merangkai Pompa Bambu
  6. PENGGUNAAN
    1. Pemompaan harus teratur dan hati-hati
    2. Pompa dipakai setiap hari
  7. KEUNTUNGAN
    1. Daya tahan pompa cukup lama
    2. Kapasitas air yang diperoleh cukup besar
    3. Air yang terhisap ke atas jernih
  8. KERUGIAN
    Apabila bahan yang digunakan (bambu) tidak cukup tua, kering dan tebal, akan mengakibatkan kerusakan pada rangkaian bambu. Kerusakan tersebut akan menyebabkan konstruksi dari bambu-bambu tersebut berubah dan tidak berfungsi lagoi.
  9. DAFTAR PUSTAKA
    1. Kismosudirdjo, Prijono. Pompa bambu. Bandung : Terate, 1982, 35 hal.
    2. Pompa bambu ini pernah dicoba dan banyak dipakai di Daerah Jawa Barat dan Jawa Tengah.
  10. INFORMASI LEBIH LANJUT
    1. Pusat Penelitian dan Pengembangan Fisika Terapan – LIPI; Jl. Cisitu Sangkuriang No. 1 – Bandung 40134 - INDONESIA; Tel.+62 22 250 3052,
      250 4826, 250 4832, 250 4833; Fax. +62 22 250 3050
    2. Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan PDII-LIPI; Sasana Widya Sarwono, Jl. Jend. Gatot Subroto 10 Jakarta 12710, INDONESIA.
Sumber : Buku Panduan Air dan Sanitasi, Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan PDII-LIPI bekerjasama dengan Swiss Development Cooperation, Jakarta, 1991.
 Publisher: Menristek

Friday, October 28, 2011

ALAT PENGERING TENAGA SURYA MODEL AIT

ALAT PENGERING TENAGA SURYA MODEL AIT
1. PERANCANG
Asian Institute Technologym Bangkok
2. PENGGUNA/FUNGSI
Penggunaan untuk semua bahan hasil pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan.
3. SPESIFIKASI
1) Dimensi Ruang pengumpul panas (mm) : 200 x 3000 x 2000; ruang pengering (mm): 900 x 1000 x 2000.
2) Konstruksi
a) Rangka utama dari kayu dan plastik polietilen.
b) Penyambungan dengan menggunakan paku.
3) Rancangan Fungsional
a) Sumber energi: sinar matahari.
b) Pengumpul panas: seng gelombang yang dicat hitam.
4) Rancangan Struktural
a) Ruang pengumpul panas:
- seng gelombang yang dicat hitam
- saluran pemasukan udara
- kerangka: alas dan dinding dari papan, dan penutup dari plastik transparan polietilen
b) Ruang pengering:
- plenum
- rak-rak bahan yang dikeringkan
- saluran pengeluaran udara
- kerangka dari kayu, dinding dan atap dari plastik transparan polietilen
5) Bahan Kayu, seng dan plastik.
6) Kapasitas 50 - 100 kg ikan.
7) Umur Alat 2 (dua) tahun
4. PRINSIP KERJA ALAT
Cahaya matahari memanaskan udara dari seng gelombang di ruang pengumpul panas. Udara panas yang relatif ringan dibanding udara di ruang pengering mengalir ke ruang pengering untuk menguapkan air pada bahan. Udara pada ruang pengering mengalir ke bagian atas ruang pengering dan keluar melalui ventilasi. Cahaya matahari juga memanasi bahan di ruang pengering sevara langsung dari plastik transparan.
5. HARGA/ANALISIS BIAYA
a) Harga untuk setiap unit adalah Rp. 1.000.000,- (perkiraan tahun 1997).
b) Perkiraan biaya operasional: Rp. 2.495, 70 per jam (8 jam operasi per hari).
c) Perkiraan biaya pengeringan: Rp. 5,- sampai Rp. 25, - per kg ikan.
6. KONTAK HUBUNGAN
Dewan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Industri Sumatera Barat, Jl.Rasuna Said, Padang Baru, Padang, Tel. 0751 40040, Fax. 0751 40040 Jakarta, Maret 2001 Sumber : Teknologi Tepat Guna Untuk Agroindustri Kecil Sumatera Barat, Hasbullah, Dewan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Industri Sumatera Barat, Padang, 2000.
Sumber: Mentri Negara Riset dan Teknologi

PENJERNIHAN AIR MENGGUNAKAN ARANG SEKAM PADI

PENJERNIHAN AIR MENGGUNAKAN ARANG SEKAM PADI
  1. PENDAHULUAN
    Kebutuhan akan air bersih di daerah pedesaan dan pinggiran kota untuk air minum, memasak , mencuci dan sebagiannya harus diperhatikan. Cara penjernihan air perlu diketahui karena semakin banyak sumber air yang tercemar limbah rumah tangga maupun limbah industri.
    Cara penjernihan air baik secara alami maupun kimiawi akan diuraikan dalam bab ini. Cara-cara yang disajikan dapat digunakan di desa karena bahan dan alatnya mudah didapat. Bahan-bahannya anatara lain batu, pasir, kerikil, arang tempurung kelapa, arang sekam padi, tanah liat, ijuk, kaporit, kapur, tawas, biji kelor dan lain-lain.
  2. URAIAN SINGKAT
    Sekam padi banyak terdapat didaerah pedesaan, namun penggunaan sekam padi belum dimanfaatkan sepenuhnya. Uraian ini adalah salah satu cara memanfaatkan sekam padi untuk memperoleh air bersih yang merupakan kebutuhan dasar bagi masyarakat.
  3. BAHAN DAN PERALATAN
    1. Arang sekam padi
    2. Kayu bakar
    3. Sampah-sampah/tanah
    4. Pipa
    5. Kerikil
    6. Kawat ram
    7. Lumpur
    8. Drum diameter 40 cm dan tinggi 72 cm
  4. PEMBUATAN
    1. Dasar drum dibuat lubang-lubang kecil (diameter 2 mm) dan 4 lubang dengan diameter 3,5 mm. Pada dinding drum diberi 6 lubang berdiameter 3,5 mm. Jarak antara masing-masing lubang 10 cm. Bagian kiri dan kanan drum dipasangi pipa yang panjangnya 15 cm. Pada bagian dasar dari drum diberi kawat ram (lihat Gambar 1).

      Gambar 1. Alat Pembuatan Arang Sekam Padi
    2. Tungku pembakaran :
      Tungku pembakaran adalah tungku rumah tangga yang dimodifikasi untuk pengarangan kayu bakar. Lihat Gambar 2.

      Gambar 2. Tungku Pembakaran Sekam Padi
    3. Alat penjernihan air terdiri atas 2 bagian :
      1. Alat pengendapan yang terbuat dari drum.
      2. Alat penyaringan yang dibuat dari gentong. Pada dasar gentong diberi kerikil dan arang sekam padi setebal dari 10 sampai 20 cm di atasnya. Di atas arang sekam padi diberi ijuk.
    4. Pembuatan arang sekam padi :
      1. Secara tradisional arang sekam padi dibuat dalam suatu lubang yang berukuran : panjang 50 cm, tinggi 30 cm dan diameter 50 cm, dengan kapasitas 5 kg. Sekam dibakar di atas tungku singer. Sekam yang sudah terbakar ditutup tanah dan diatasnya diberi sampah. Pada salah satu sudut lubang diberi pipa udara.
      2. Cara lain dengan menggunakan drum sebagi tungku pembakaran. Temperatur pada waktu pengarangan 400°-600°C dan lama pengarangan 2,5 jam. Bahan bakar kayu yang digunakan 5 kg, untuk 5 kg sekam padi.

        Gambar 3. Alat Penjernihan Air
  5. PENGGUNAAN
    Proses penyaringan air:
    1. Tahap pertama pengendapan
    2. Tahap kedua penyaringan dengan arang sekam padi kira-kira 10 cm tebalnya. Proses penyaringan ini bekerja selama 6 jam/hari.
  6. KEUNTUNGAN
    1. Dapat memenuhi kebutuhan air bersih untuk keperluan keluarga
    2. Pengarangan sekam padi mudah dikerjakan oleh masyarakat pedesaan sendiri.
    3. Relatif murah
    4. Hasil penjernihan memenuhi syarat kesehatan.
    5. Sekam padi mudah diperileh di pedesaan.
  7. KERUGIAN
    Pembakaran harus sempurna, apabila pembakaran”tidak sempurna” (kekurangan oksigen) arang sekam padi dan abu akan bercampur.
  8. DAFTAR PUSTAKA
    Asril, Lutan. Penjernihan air menggunakan arang sekam padi skala keluarga untuk daerah pedesaan. Dalam kumpulan makalah : Lokakarya penelitian dan pengembangan teknologi tepat guna penyediaan air minum dan pembuangan kotoran di pedesaan, Cimacan : 2-4 Februari 1981. Jakarta : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan, 1981.
  9. INFORMASI LEBIH LANJUT
    1. Pusat Penelitian dan Pengembangan Fisika Terapan – LIPI; Jl. Cisitu Sangkuriang No. 1 – Bandung 40134 - INDONESIA; Tel.+62 22 250 3052, 250 4826, 250 4832, 250 4833; Fax. +62 22 250 3050
    2. Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan PDII-LIPI; Sasana Widya Sarwono, Jl. Jend. Gatot Subroto 10 Jakarta 12710, INDONESIA.
Sumber : Buku Panduan Air dan Sanitasi, Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan PDII-LIPI bekerjasama dengan Swiss Development Cooperation, Jakarta, 1991.
Publisher: Mentri Negara Riset dan Teknologi